Diikutkan Dalam Lomba Cerpen 'The Chronicles of Audy: 4/4'
Aku ingin menjadi penulis. Aku sangat ingin mengikuti perlombaan itu.
Tapi, akankah mereka menyukainya?
***
"Rex," kataku. "Hm?" balasnya dingin. "Kalo aku ikut kontes menulis, lucu gak sih?" tanyaku. Ia agak terkejut lalu kedua alisnya bertaut. "Terserah," jawabnya singkat. "Aku nanya lucu gak sih?" tanyaku kembali. Ia tidak menjawab dan kedua matanya kembali tertancap pada buku tebal itu. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku keluar dari kamar Rex dan duduk di sofa sambil memijat dahiku. Tak lama, Romeo keluar. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menarik lengan Romeo untuk duduk di sofa bersamaku. "Heh, apa-apaan ini?" tanyanya. "Ro, kalo aku ikut kontes menulis, lucu gak sih?" tanyaku. Ia sedikit kebingungan dan setelahnya tertawa tanpa henti. "Hei, Ro!" teriakku. "Au, sejak kapan kamu bisa menulis? Kayaknya baca buku aja susahnya setengah mati, deh!" tanyanya di sela-sela tawa. "Gini-gini aku jago menulis, tau!" bentakku. "Iya deh, iya. Kamu cocok aja sih jadi penulis. Gak lucu kok, soalnya dulu aku juga pengen tuh jadi penulis," katanya. Aku mengangguk mengerti. "Yaudah, aku bikin makan siang dulu," kataku. Hmm.. Nulis tentang 4R1A aja kali, ya? gumamku.
***
Aku mengambil laptopku dan mulai menulis. Ya, seperti yang tadi kupikirkan, aku memutuskan untuk menulis tentang 4R1A. Setelah 2 jam menulis, aku baru mendapatkan 3 alinea. Yang benar saja! Gimana mau jadi penulis kalo kayak gini? Teleponku berdering. Layarnya menampilkan telepon rumah 4R. Aku mengangkatnya."Au, ke rumah dong, aku mau ngajarin kamu main kubik," kata Rafael. "Entar pas makan malem aja ya, Fa. Aku lagi sakit perut," dustaku. "Oh, yaudah, janji ya entar malem!" Rafael memutuskan sambungannya. Aku mulai melanjutkan ceritaku.
Setelah 6 hari berpikir, jadi juga ceritaku. 4R1A siap untuk aku serahkan kepada salah satu penerbit buku. Dalam 1 minggu, admin mereka mengabariku bahwa ceritaku berhak untuk diterbitkan. Ya baiklah. Aku sudah menyiapkan semuanya. Cover, pre-order, semuanya. Aku sudah jarang ke rumah 4R, dan aku menjadi serba salah. Jadi hari ini aku membeli capcay, ayam goreng, dan beberapa kudapan. Regan tidak tahu tentang hal ini, jadi aku beli saja. Saat aku melihat sedan hitam di depan rumah 4R, aku terkejut. Astaga, Regan ternyata datang. Aku melangkah gontai ke arah rumah 4R.
Rex dan Maura ada di depan. "Dy, ternyata kamu tidak apa-apa!" kata Maura sambil berjalan ke arahku. Aku tersenyum geli. "Jadi, kenapa kamu tidak datang?" tanya Rex. "Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah," kataku. "Seperti ini?" tanya Romeo sambil memamerkan sebuah buku. Di buku itu tertulis judul 4R1A. "Ro!" teriakku. "Kenapa?" tanya Romeo. "Kan aku mau bikin surprise buat kalian," kataku. "Ayo, masuk," kata Regan. Aku mengangguk dan ingat aku membawa banyak makanan. "Re, tadi aku beli banyak makanan," kataku sambil mengangkat plastik hitam besar. "Wah, tau aja kalo aku belom beli makanan," goda Regan. Aku tersenyum menang. "Yaudah, cepetan! Capcaayyy.." kata Romeo.
Setelah makan siang, aku menceritakan pada semuanya bagaimana jerih payahku membuat semua itu. "Aku udah baca," kata Rafael yang tiba-tiba muncul dari kamar Romeo. "Baca apa?" tanya Maura. "Tuh, abis baca bukunya Audy," katanya. "Bagus gak, Fa?" tanyaku. "Ya, lumayanlah," tanggapnya. "Yeyy.. Aku sayang Rafa!" seruku sambil memeluk Rafael. Semua orang tertawa melihat tingkah lakuku, kecuali Rex.
"Ohya, Re, kemarin aku dapet hadiah, tapi belum dibuka, bukain ya!" kataku sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Regan mengangguk dan segera merobeknya. "Untuk Audy Nagisa, 22 tahun, penulis 4R1A," ucap Regan selesai membuka bungkusan tadi. "Buka, Mas kotaknya!" seru Romeo tak sabar. Disana terdapat 3 kartu. Yang pertama bertuliskan 'Rp. 3.500.000,00,-'. Yang kedua bertuliskan '5 buah Voucher Belanja @Rp. 100.000,00,-'. Yang ketiga bertuliskan '4 novel 4R1A'. "Buat apa novel 4R1A?" tanya Romeo. "Buat kalian jadi gausah beli, free tanda tangan aku, sama nih, tumblr buat kalian masing-masing. Hadiah yang tadi semuanya buat kalian aja," kataku. "Buat apa, Dy? Kan yang dapet kamu, bukan kita," kata Maura. "Kan aku bikin novel ini hanya untuk kalian. Kalian liat aja di ucapan terima kasih," kataku. "Iya, ada Au!" seru Romeo. "Ok, makasih ya, Dy," kata Regan. "Aku yang harus terima kasih. Voucher belanja khusus buat Regan dan Maura doang, yang tunainya, terserah mau diapain," kataku. Semua tertawa hingga petang dan kali ini (mungkin) Rex tertarik karena ia ikut tertawa bersama kami.
Setelah makan siang, aku menceritakan pada semuanya bagaimana jerih payahku membuat semua itu. "Aku udah baca," kata Rafael yang tiba-tiba muncul dari kamar Romeo. "Baca apa?" tanya Maura. "Tuh, abis baca bukunya Audy," katanya. "Bagus gak, Fa?" tanyaku. "Ya, lumayanlah," tanggapnya. "Yeyy.. Aku sayang Rafa!" seruku sambil memeluk Rafael. Semua orang tertawa melihat tingkah lakuku, kecuali Rex.
"Ohya, Re, kemarin aku dapet hadiah, tapi belum dibuka, bukain ya!" kataku sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Regan mengangguk dan segera merobeknya. "Untuk Audy Nagisa, 22 tahun, penulis 4R1A," ucap Regan selesai membuka bungkusan tadi. "Buka, Mas kotaknya!" seru Romeo tak sabar. Disana terdapat 3 kartu. Yang pertama bertuliskan 'Rp. 3.500.000,00,-'. Yang kedua bertuliskan '5 buah Voucher Belanja @Rp. 100.000,00,-'. Yang ketiga bertuliskan '4 novel 4R1A'. "Buat apa novel 4R1A?" tanya Romeo. "Buat kalian jadi gausah beli, free tanda tangan aku, sama nih, tumblr buat kalian masing-masing. Hadiah yang tadi semuanya buat kalian aja," kataku. "Buat apa, Dy? Kan yang dapet kamu, bukan kita," kata Maura. "Kan aku bikin novel ini hanya untuk kalian. Kalian liat aja di ucapan terima kasih," kataku. "Iya, ada Au!" seru Romeo. "Ok, makasih ya, Dy," kata Regan. "Aku yang harus terima kasih. Voucher belanja khusus buat Regan dan Maura doang, yang tunainya, terserah mau diapain," kataku. Semua tertawa hingga petang dan kali ini (mungkin) Rex tertarik karena ia ikut tertawa bersama kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar