Jumat, 15 Januari 2016

Kisah Dua Orang Anak yang dapat Berbahasa Indonesia

“Diam kenapa sih?! Anj*ng!!” Aku mulai mengeluarkan suara terbaikku untuk menenangkan kelas. Semuanya langsung terdiam begitu saja dan tak lama lagi sudah mulai berbasa-basi lagi dengan teman yang lain. Aku kembali ke tempat dudukku. Capek sekali. Ingin istirahat.
“Kay! Itu tuh, si Michael berantem sama Hansel!” seru Tiffany. Astaga. Kuharap aku segera terbangun dari tidurku yang menyebalkan ini! “Kenapa sih?! Kalian seperti t*i sekali!” seruku. Sadarlah, Kayla. Ini dunia nyata. Aku menghembuskan napas.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, aku dan Tiara pergi menuju kantin. Aku pergi ke kantin bukan hanya untuk membeli makanan dan minuman kemudian kembali ke kelas lagi. Tapi, aku ke kantin juga untuk melihat gebetanku, Rio.
Aku berdesak-desakkan demi mengambil makanan dengan yang lain. Di ujung kantin, aku melihat Rio dengan pacarnya, Erlyn. Ke kantin selalu dengannya! Kalau bukan dengan Erlyn, pasti sama Mac. Aku segera kembali ke kelas setelah menunggu Tiara membeli makanan.
Bel masuk berbunyi dan aku memanggil kak Natasya untuk berlatih upacara. Sungguh, jika aku boleh bercerita, ia selalu mengeluh dengan pekerjaannya sebagai seksi upacara. Dalam hati aku selalu berkata, tidakkah ia ingat dengan janjinya sebelum menjadi anggota OSIS?
Aku mengambil peralatan upacara di kantor guru. Kemudian, aku memanggil petugas-petugas upacara untuk berlatih. Untunglah, kali ini kami dibantu dengan Pak Barjo dalam latihan kali ini. Jadi, upacara bisa berjalan dengan lancar meskipun masih ada yang belum siap. Aku segera membereskan peralatan setelah selesai.
Lelah sekali. Aku masih harus berteriak-teriak di dalam kelas karena kegaduhan saat pindah tempat duduk.
Bel pulang berbunyi. Aku segera mengambil handphoneku dan memberikannya pada Selly untuk menelepon ayahnya. Sementara itu, aku ingin mengambil buku Harry Potterku. Aku berusaha untuk membuka pintu perpustakaan, tetapi apa daya, dikunci. Tubuhku melemas seketika di depan pintu perpustakaan.
Setelah Selly selesai menelepon ayahnya, aku pulang naik angkutan umum ber-sama Selly. Sampai di tengah perjalanan, ada dua anak laki-laki remaja naik ke angkutan umum yang aku naiki.
Aku mendengar percakapan mereka. Dengan polosnya, mereka berbicara begitu saja. Tetapi, yang paling aku tidak percayai adalah, mereka masih berbicara aku-kamu. Aku sangat antusias mendengarkan mereka berbicara seperti itu. Nyaman sekali rasanya. Rasa letihku hilang begitu saja. Sampai-sampai aku masih tidak sadar sudah sampai tujuan.
Aku selalu berpikir, masih adakah orang yang dapat berkata bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Sekarang, pertanyaanku sudah terjawab. Aku selalu berpikir seperti itu, karena sebetulnya, aku tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, walaupun aku WNI asli-dengan sedikit keturunan Tionghoa.
Aku selalu berharap masih ada orang yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, lalu kemudian menyadarkan orang-orang sepertiku untuk berbicara lebih baik dan sopan, tanpa harus mengeluarkan kata-kata kasar.


I LOVE INDONESIA!

Lomba Menulis Penerbit Haru ke-5: Kisah Dibalik Kekompakkan Penerbit Haru Group

https://www.facebook.com/notes/penerbit-haru/haruhi5-lomba-menulis-hari-hari-haru/938757942845305

Diikutkan dalam Lomba Menulis Cerpen

Dalam Rangka Ulang Tahun Penerbit Haru yang ke-5

“Editor! Kerja kamu itu selalu santai! Nggak lihat apa, di sana masih banyak tumpukan naskah yang harus kamu lihat!” kata Pak Man, memarahi Kak Tor yang sedang mendengarkan musik.

“Iya, Pak. Saya sudah bekerja keras untuk hari ini. Saya akan berusaha mengum-pulkan tenaga untuk membaca naskah yang lain,” terang Kak Tor sambil menahan isak tangis dan mematikan musiknya.

“Saya ingin naskah cepat selesai agar bisa cepat dicetak. Readers sudah menungggu! Tidak tahukah kamu tentang hal itu?” Suara Pak Man kembali menggelegar di kantor Haru. Kak Tor hanya mengangguk-angguk pasrah. Kemudian, Pak Man meninggalkan Kak Tor seorang diri.

“Sudahlah, Tor. Berikan usaha terbaikmu untuk seluruh petugas dan readers Haru,” kata Kak Min. “Aku juga masih banyak kerjaan, nih! Kayaknya hari ini harus lembur.”

Kak Tor menyalakan musiknya kembali. Ia mengambil naskah selanjutnya untuk di editing ulang. Baiklah, kali ini dalam waktu seminggu harus sudah selesai. Semuanya!

Esok pagi, Pak Man kembali menghampiri Kak Tor. “Semalam kamu lembur, ya?” tanya Pak Man, salah tingkah.

“Ya begitulah, Pak. Sudah begini nasib sebagai editor. Haha,” sahut Kak Tor dengan mata masih menyangkut di layar komputer.

“Ini, terimalah balas budi saya. Maaf kemarin saya terlalu gengsi,” kata Pak Man sambil menaruh kantong plastik hitam di samping komputer Kak Tor.

Kak Tor berdiri dan melihat ke dalam kantong plastik itu, kemudian menatap mata Pak Man. “Maaf, Pak. Saya sedang menjalani diet. Ini untuk Bapak saja,” kata Kak Tor sambil berusaha memberi kantong plastik itu kepada Pak Man.

“Buat saya saja, ya, Pak. Saya lapar. Dompet telah menipis. Terima kasih, Pak,” kata Kak Bunga langsung berlari setelah mendapatkan kantong plastik itu.

“Maaf, Pak. Saya nggak pernah bermaksud untuk mengecewakan Bapak dengan usaha saya yang selalu pas-pasan. Saya akan berusaha lebih lanjut untuk membanggakan Bapak serta seluruh petugas dan readers,” kata Kak Tor sembari duduk.

“Ya, saya mengerti perasaan kamu. Saya akan memegang janji-janji yang telah kamu ucapkan,” kata Pak Man sambil tersenyum dan meninggalkan Kak Tor.

Seminggu kemudian...

“Permisi... Aduh! Permisii!” Kak Tor berlari sambil membawa naskah. Diketuk olehnya pintu kerja Pak Man. “Ya, silahkan masuk.”

“Pak, saya sudah selesai mengedit ulang seluruh naskah. Ini naskahnya!” kata Kak Tor. Pak Man mengangguk-angguk puas.

“Hmm... Saya punya satu pekerjaan lagi untukmu,” kata Pak Man. Hati Kak Tor sudah getir. “NASKAH LAGI!” teriak Pak Man berbangga hati. Kak Tor mulai melemas di tempat.