Seorang gadis bernama Kayla jatuh cinta pada
sesosok laki-laki bernama Devon.
Tetapi, sehari setelah Kayla menyatakan perasaannya,
Devon menempati hati seorang gadis yang tidak salah lagi sahabatnya sendiri,
lebih tepat mantan sahabat.
Apa yang akan dilakukan oleh Kayla?
***
Oke, gumamku. "Jadi, lo udah mastiin kan kalo lo bisa ngelupain dia?" tanya Soraya. Aku tak berkutik. "Woy, Kay!" teriaknya. "Eh?" kataku. Aku menggeleng-geleng menyadarkan diriku. "Jadi, lo bisa kan ngelupain dia kan?" ulangnya. "Ray," ucapku. "Tinggalin gue sendiri dulu, ya," kataku sambil berjalan menuju pintu utama. "Lo mau kemana, Kay?" tanyanya. Aku tetap berjalan seolah-olah perkataan Soraya hanyalah angin. Aku berjalan sambil menunduk. Tiba-tiba saja ada sepasang sneakers berhenti di depanku. Aku sangat mengenalnya. Aku mengangkat wajahku dan jari telunjukku membetulkan letak kacamataku. "Kay, lo ditunggu sama Miss Helen di ruang guru," katanya. "Oh, oke, makasih Dev," kataku lalu berjalan kembali. Tangan Devon menghalangi tempatku berjalan. "Emm, ada apa, ya, Dev?" ucapku ragu-ragu. "Kayaknya lo beda. Ada apa?" tanyanya. Heii.. Dimana sifat dinginnya? pikirku. "Gak kok, gue alright," kataku sambil tersenyum samar. Siapa yang tahu sifat dinginnya hilang kemana? "Oh," jawabnya dingin. Well, sifat dinginnya kembali. "Entar malem bales chat gue," kataku sambil berjalan menjauh. See? Gue gak bakal pernah 'bisa' lupain dia.
***
"Kay, buka pintunya!" kata Kak Karen. "Ada apa, kak?" ucapku. "Bukain dulu pintunya!" Aku langsung melompat dari kasurku dan memutar kuncinya. "Kamu lagi apa?" tanya Kak Karen. "Lagi nge-blog cerita disuruh Miss Helen," kataku dingin. "Yakin bisa ngerjain sendiri?" goda Kak Karen. "Ya setengahnya begitu, soalnya cuma disuruh ngembangin ini jadi paragraf," kataku sambil memamerkan kertas putih. "Oh, jadi cua gara-gara itu kamu lupa mandi, makan, dan bahkan dari tadi temanmu udah nungguin di ruang tamu selama 2 jam?" kata Kak Karen. "Hah?" ucapku. Aku melirik jam dinding. Ya, oke. Kakak benar. Sekarang memang sudah pukul 8 malam. "Ada siapa, kak?" tanyaku. "Devon," jawabnya. "Whaaa?" teriakku. "Emangnya kenapa?" tanya Kak Karen. "Nga-ngapain dia nungguin nyampe 2 jam disini?" tanyaku. "Gak tau deh," kata Kak Karen. "Yaudah, tolong panggilin dia, ya, kak," kataku sambil kembali menatap layar komputerku.
Tak lama, ia datang. "Duduk disitu," kataku sambil menunjuk ke arah sofa. "Ada apa? Malem-malem ke sini dan nunggu selama 2 jam?" tanyaku. "Emangnya gue ngegangguin lo ya?" Aku memutar bola mataku dan duduk di kasur. "Gue lagi banyak tugas, Dev. You know about that, huh?" tanyaku. "Yaudah deh, gue pulang aja," ucapnya pasrah. Aku langsung melompat ke arah pintu. "E-emangnya ada apa?" kataku. "Lo gagap," katanya sambil menunjuk arah bibirku. "Cepet duduk lagi," suruhku sambil mendorongnya. "Lo kenapa sih? Gak biasanya kayak begini, deh," katanya. "Cepetan to the point aja," kataku. "Gue disuruh Miss Soraya sahabat lo buat nemenin lo," katanya. Ngapain si Soraya nyampe nyuruh-nyuruh Devon ke rumah gue? "Oh ya, katanya lo belom makan, ya? Nih, gue bawain martabak," katanya sambil menaruh plastik itu di meja belajarku. "Thanks," ucapku.
"Lo lucu," kata Devon sambil menunjuk ke arah fotoku waktu bayi. Aku tak memperdulikan perkataannya dan kembali pada komputerku. "Kay," ucapnya yang membuatku membalikkan badan. Energi macam apa ini? "Wha?" Aku ternganga melihatnya memberikanku setangkai bunga mawar. "Buat lo," katanya. Aku mengambil bunga itu. "Kok gitu?" tanyaku. "Hah?" tanyanya balik. "Y-ya, oke, tadi-kalo-lo-inget, gue janji mau nge-chat lo, tapi gue belom sempet," kataku sambil menatap bunga mawar merah itu. "Dev," ucapku.
"Gue suka sama lo."
Gue udah bilang itu.
Devon menatap kaca jendelaku yang belum kututupi dengan gorden karena sibuk. "Thanks," ucapnya membalikkan badan. "Tapi gue gak bisa ngebales perasaan lo," katanya. Hati ini teriris, tersayat, dan hancur. "Hah? Kenapa lo bilang kayak gitu? Gue gak bilang kan kalo gue butuh balesan dari lo?" ucapku pasrah-tak-tahu-harus-berkata-apa. Dia menatapku lekat-lekat. Aku berusaha menghindari tatapannya. "So, tujuan lo ke sini cuma buat nemenin gue kan?" tanyaku mencairkan suasana. "Engga," katanya. "Gue mau ngerepotin lo dengan PR gue," katanya sambil tertawa. "Hah?" ucapku bingung. "Gue di rumah sendirian, kakak gue lagi ke luar kota sementara bokap nyokap sama adek gue lagi jenguk sodara gue yang lagi sakit," jelasnya. "Oh," jawabku singkat. "Gue ke sini karena PR gue susah banget, gue gak ngerti sama sekali," jelasnya. "Yaudah, lo kerjain yang lo bisa kerjain aja," kataku lalu kedua mataku kembali tertancap ke layar komputer, hanya untuk menyembunyikan tangisanku. Oke, kali ini Soraya benar. "Kay, lo punya penggaris gak?" tanyanya. Aku menyodorkan kotak pensilku tanpa membalik badan. Mungkin perbuatanku ini membuat Devon bingung. "Lo kenapa, Kay?" tanyanya. "Gue alright! Jangan dateng ke sini! Gue mau konsentrasi dulu karena harus dikasih besok! Lo kerjain aja PR lo itu! Kalo udah selesai baru panggil gue!" bentakku tak karuan.
***
Kemarin setelah Devon pulang, aku makan, mandi, kemudian menangis sejadi-jadinya sehingga kantung mataku muncul seperti ini. Kasihan mata mungilku ini. "Kay!" teriak seseorang. Aku tetap berjalan. "Kay!" panggilnya sekali lagi, tapi aku tidak menghiraukan perkataannya itu. "Hei, Kay!" teriaknya. "Apa sih?!" kataku akhirnya membalikkan badan. Tidak ada siapa-siapa. Aku berjalan mundur karena ketakutan dan tiba-tiba saja aku menabrak seseorang. Otomatis, aku langsung membalik badanku. "Maaf, maaf," kataku sambil membungkukkan badan. "Kay," katanya sambil memegang kedua pundakku. Aku mengangkat wajahku. "Astaga! Maaf, maaf, saya salah orang!" katanya setelah aku menatap wajahnya. "Eh, Aurel. Maaf, maaf. Ini aku Kayla. Ada apa?" tanyaku. "Devon.. Devon.." katanya. "Devon kenapa sih?" tanyaku bingung. "Devon.. Devon.." katanya lagi. Aku yang bingung menarik lengan Aurellia dan pergi ke kelas.
"Kenapa? Ada apa dengan Devon?" tanyaku yang masih penasaran. "Kamu liat kan, Kay, kelas sepi," katanya. "Iya, kelas emang sepi, tapi apa hubungannya sama Devon?" tanyaku lagi. "Tentu saja ada hubungannya sama Devon!" ucapnya. Tiba-tiba aja Soraya dan Arina masuk ke dalam kelas dan berlari ke arahku. "Kay, Devon," kata Arina. "Kenapa sih semuanya bilang tentang Devon?" teriakku. "Devon itu.." kata Arina. "Kenapa sih? Ada apa dengan Devon??" tanyaku. "Devon nembak cewek.." kata Soraya langsung. "Ray!" teriak Aurellia dan Arina bersamaan. Oke, hatiku sudah kebal. "Siapa ceweknya?" kataku dengan penuh semangat. Alis mereka bertaut. "Lo gak marah?" kata Soraya. "Napa mesti marah? Punya hak aja kagak gue," kataku. "Virginia.." kata Arina kemudian. "Rin!" teriak Soraya dan Aurellia. "Oh," jawabku singkat. "Tadi pagi kita dateng si Devon udah seru-serunya teriak," jelas Aurellia. "Rell!" teriak Soraya dan Arina. "Apa?" tanya Aurellia. "Iya, teriak kalo dia seneng udah punya pacar," seru mereka bersamaan. "Gue ke taman atas bentar ya, mau nyari udara segar," kataku.
Ya, hancur sudah semuanya. "Hai, Kay," sapa Virginia yang sedang lewat di depanku. Aku tak memperdulikannya. Aku melirik jam tanganku dan berjalan menuju lift. Tiba-tiba saja lenganku ditarik dari belakang. Aku tetap berjalan. "Kay," katanya. "Apa sih?! Jangan gangguin gue!" kataku. Dia melepaskan pegangannya dan membiarkanku masuk ke dalam lift. Aku menekan tombol 3 dan melihat bayang-bayang orang yang tadi menarik lenganku. What? Itu barusan.. Kak Riska?! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kak Riska itu kakak Devon. Aku berjalan keluar dari lift dan menunggu pintu lift terbuka dan menghasilkan Kak Riska di dalamnya. Betul saja. Begitu melihat Kak Riska, aku langsung meminta maaf. "Hei, Kay," katanya sambil memegang pundakku. "Kakak tahu kok perasaan kamu sekarang," kata Kak Riska. "Ma-maksud kakak apa?" kataku pura-pura tidak tahu. "Jadi, kamu belum tahu tentang masalah itu. Baiklah, nanti pulang kuliah temui kakak di kantin," kata Kak Riska yang kemudian meninggalkanku.
***
Ternyata Kak Riska telah menungguku. "Maaf, kak, jadi nungguin," kataku sambil tersenyum. "Gak apa-apa. Kamu belum harus pulang kan?" tanyanya. "Ya begitulah," kataku. "Emm.. Baiklah. Tadi Devon nembak temanmu itu," katanya memulai pembicaraan. "Oh. Siapa orang itu kak?" tanyaku walaupun rasanya ingin menangis. "Virginia. Dia sahabatmu kan?" tanya Kak Riska. "Dia bukan sahabat aku, kak," kataku. "Hah? Jangan bilang hubungan kalian terputus gara-gara cowok," kata Kak Riska. "Bukan gara-gara cowok, dia gak pantes buat dipanggil sahabat sama aku, kak," ceritaku. "Waktu dia pertama kali bisa duduk sama Devon, dia seneng banget sampe-sampe dia ngeledek aku. Aku juga tau dari Vanora yang waktu itu ngedenger Virgin ngeledek aku." Kak Riska mengangguk-angguk. "Besok kamu libur kan?" tanya Kak Riska. Aku mengangguk. "Besok kakak ke rumah kamu boleh?" tanya Kak Riska. "Wah, kehormatan aku kakak bisa dateng ke rumah aku," ucapku. Kemudian kami tertawa.
***
"Kay, ada Riska, nih," kata Kak Karen. "Tolong suruh dia kesini, kak. Trims," kataku. "Hai, Kay," sapanya ketika membuka pintu kamarku. "Hai, juga," sapaku balik. "Hmm.." ujarnya. "Wangi mawar merah," katanya. "Ya, mawar merah dari Devon waktu dia dateng ke sini buat ngerjain PR," kataku. "Kapan?" Mata Kak Riska memicing. "Lusa kemarin malam. Waktu itu juga aku bilang aku suka sama dia," kataku. "Kamu bilang ke dia kalo kamu suka sama dia??" tanya Kak Riska. "I-iya, kak. Emangnya ada masalah apa?" tanyaku. "Dia bakalan gak peduli lagi sama kamu, Kay. Sifatnya gak akan pernah sama lagi waktu dulu," jelasnya. "Biarin kak. Aku udah tau kalo masalah itu. Aku emang mau Devon bersikap seperti itu kepadaku." Kak Riska menghampiriku dan duduk di sebelahku. "Kamu emang perempuan kuat, Kay," katanya sambil mencubit pipiku. Kami tertawa.
"Kakak pulang dulu ya, Kay. Makasih udah traktir makan," teriaknya dari dalam mobil. "Oke!" teriakku. "Hati-hati di jalan kak! Salam buat om-tante," kataku. Dia mengangguk dan segera menancap gas.
"Kak Karen," panggilku. "Hm?" jawab Kak Karen. "Cinta itu apa?"
-Tunggu kelanjutannya, ya ^^-