Jumat, 15 Januari 2016

Kisah Dua Orang Anak yang dapat Berbahasa Indonesia

“Diam kenapa sih?! Anj*ng!!” Aku mulai mengeluarkan suara terbaikku untuk menenangkan kelas. Semuanya langsung terdiam begitu saja dan tak lama lagi sudah mulai berbasa-basi lagi dengan teman yang lain. Aku kembali ke tempat dudukku. Capek sekali. Ingin istirahat.
“Kay! Itu tuh, si Michael berantem sama Hansel!” seru Tiffany. Astaga. Kuharap aku segera terbangun dari tidurku yang menyebalkan ini! “Kenapa sih?! Kalian seperti t*i sekali!” seruku. Sadarlah, Kayla. Ini dunia nyata. Aku menghembuskan napas.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, aku dan Tiara pergi menuju kantin. Aku pergi ke kantin bukan hanya untuk membeli makanan dan minuman kemudian kembali ke kelas lagi. Tapi, aku ke kantin juga untuk melihat gebetanku, Rio.
Aku berdesak-desakkan demi mengambil makanan dengan yang lain. Di ujung kantin, aku melihat Rio dengan pacarnya, Erlyn. Ke kantin selalu dengannya! Kalau bukan dengan Erlyn, pasti sama Mac. Aku segera kembali ke kelas setelah menunggu Tiara membeli makanan.
Bel masuk berbunyi dan aku memanggil kak Natasya untuk berlatih upacara. Sungguh, jika aku boleh bercerita, ia selalu mengeluh dengan pekerjaannya sebagai seksi upacara. Dalam hati aku selalu berkata, tidakkah ia ingat dengan janjinya sebelum menjadi anggota OSIS?
Aku mengambil peralatan upacara di kantor guru. Kemudian, aku memanggil petugas-petugas upacara untuk berlatih. Untunglah, kali ini kami dibantu dengan Pak Barjo dalam latihan kali ini. Jadi, upacara bisa berjalan dengan lancar meskipun masih ada yang belum siap. Aku segera membereskan peralatan setelah selesai.
Lelah sekali. Aku masih harus berteriak-teriak di dalam kelas karena kegaduhan saat pindah tempat duduk.
Bel pulang berbunyi. Aku segera mengambil handphoneku dan memberikannya pada Selly untuk menelepon ayahnya. Sementara itu, aku ingin mengambil buku Harry Potterku. Aku berusaha untuk membuka pintu perpustakaan, tetapi apa daya, dikunci. Tubuhku melemas seketika di depan pintu perpustakaan.
Setelah Selly selesai menelepon ayahnya, aku pulang naik angkutan umum ber-sama Selly. Sampai di tengah perjalanan, ada dua anak laki-laki remaja naik ke angkutan umum yang aku naiki.
Aku mendengar percakapan mereka. Dengan polosnya, mereka berbicara begitu saja. Tetapi, yang paling aku tidak percayai adalah, mereka masih berbicara aku-kamu. Aku sangat antusias mendengarkan mereka berbicara seperti itu. Nyaman sekali rasanya. Rasa letihku hilang begitu saja. Sampai-sampai aku masih tidak sadar sudah sampai tujuan.
Aku selalu berpikir, masih adakah orang yang dapat berkata bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Sekarang, pertanyaanku sudah terjawab. Aku selalu berpikir seperti itu, karena sebetulnya, aku tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, walaupun aku WNI asli-dengan sedikit keturunan Tionghoa.
Aku selalu berharap masih ada orang yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, lalu kemudian menyadarkan orang-orang sepertiku untuk berbicara lebih baik dan sopan, tanpa harus mengeluarkan kata-kata kasar.


I LOVE INDONESIA!

Lomba Menulis Penerbit Haru ke-5: Kisah Dibalik Kekompakkan Penerbit Haru Group

https://www.facebook.com/notes/penerbit-haru/haruhi5-lomba-menulis-hari-hari-haru/938757942845305

Diikutkan dalam Lomba Menulis Cerpen

Dalam Rangka Ulang Tahun Penerbit Haru yang ke-5

“Editor! Kerja kamu itu selalu santai! Nggak lihat apa, di sana masih banyak tumpukan naskah yang harus kamu lihat!” kata Pak Man, memarahi Kak Tor yang sedang mendengarkan musik.

“Iya, Pak. Saya sudah bekerja keras untuk hari ini. Saya akan berusaha mengum-pulkan tenaga untuk membaca naskah yang lain,” terang Kak Tor sambil menahan isak tangis dan mematikan musiknya.

“Saya ingin naskah cepat selesai agar bisa cepat dicetak. Readers sudah menungggu! Tidak tahukah kamu tentang hal itu?” Suara Pak Man kembali menggelegar di kantor Haru. Kak Tor hanya mengangguk-angguk pasrah. Kemudian, Pak Man meninggalkan Kak Tor seorang diri.

“Sudahlah, Tor. Berikan usaha terbaikmu untuk seluruh petugas dan readers Haru,” kata Kak Min. “Aku juga masih banyak kerjaan, nih! Kayaknya hari ini harus lembur.”

Kak Tor menyalakan musiknya kembali. Ia mengambil naskah selanjutnya untuk di editing ulang. Baiklah, kali ini dalam waktu seminggu harus sudah selesai. Semuanya!

Esok pagi, Pak Man kembali menghampiri Kak Tor. “Semalam kamu lembur, ya?” tanya Pak Man, salah tingkah.

“Ya begitulah, Pak. Sudah begini nasib sebagai editor. Haha,” sahut Kak Tor dengan mata masih menyangkut di layar komputer.

“Ini, terimalah balas budi saya. Maaf kemarin saya terlalu gengsi,” kata Pak Man sambil menaruh kantong plastik hitam di samping komputer Kak Tor.

Kak Tor berdiri dan melihat ke dalam kantong plastik itu, kemudian menatap mata Pak Man. “Maaf, Pak. Saya sedang menjalani diet. Ini untuk Bapak saja,” kata Kak Tor sambil berusaha memberi kantong plastik itu kepada Pak Man.

“Buat saya saja, ya, Pak. Saya lapar. Dompet telah menipis. Terima kasih, Pak,” kata Kak Bunga langsung berlari setelah mendapatkan kantong plastik itu.

“Maaf, Pak. Saya nggak pernah bermaksud untuk mengecewakan Bapak dengan usaha saya yang selalu pas-pasan. Saya akan berusaha lebih lanjut untuk membanggakan Bapak serta seluruh petugas dan readers,” kata Kak Tor sembari duduk.

“Ya, saya mengerti perasaan kamu. Saya akan memegang janji-janji yang telah kamu ucapkan,” kata Pak Man sambil tersenyum dan meninggalkan Kak Tor.

Seminggu kemudian...

“Permisi... Aduh! Permisii!” Kak Tor berlari sambil membawa naskah. Diketuk olehnya pintu kerja Pak Man. “Ya, silahkan masuk.”

“Pak, saya sudah selesai mengedit ulang seluruh naskah. Ini naskahnya!” kata Kak Tor. Pak Man mengangguk-angguk puas.

“Hmm... Saya punya satu pekerjaan lagi untukmu,” kata Pak Man. Hati Kak Tor sudah getir. “NASKAH LAGI!” teriak Pak Man berbangga hati. Kak Tor mulai melemas di tempat.

Minggu, 12 Juli 2015

Apa Itu Cinta? (Part 1)

Seorang gadis bernama Kayla jatuh cinta pada
sesosok laki-laki bernama Devon.
Tetapi, sehari setelah Kayla menyatakan perasaannya,
Devon menempati hati seorang gadis yang tidak salah lagi sahabatnya sendiri,
lebih tepat mantan sahabat.
Apa yang akan dilakukan oleh Kayla?
***

Oke, gumamku. "Jadi, lo udah mastiin kan kalo lo bisa ngelupain dia?" tanya Soraya. Aku tak berkutik. "Woy, Kay!" teriaknya. "Eh?" kataku. Aku menggeleng-geleng menyadarkan diriku. "Jadi, lo bisa kan ngelupain dia kan?" ulangnya. "Ray," ucapku. "Tinggalin gue sendiri dulu, ya," kataku sambil berjalan menuju pintu utama. "Lo mau kemana, Kay?" tanyanya. Aku tetap berjalan seolah-olah perkataan Soraya hanyalah angin. Aku berjalan sambil menunduk. Tiba-tiba saja ada sepasang sneakers berhenti di depanku. Aku sangat mengenalnya. Aku mengangkat wajahku dan jari telunjukku membetulkan letak kacamataku. "Kay, lo ditunggu sama Miss Helen di ruang guru," katanya. "Oh, oke, makasih Dev," kataku lalu berjalan kembali. Tangan Devon menghalangi tempatku berjalan. "Emm, ada apa, ya, Dev?" ucapku ragu-ragu. "Kayaknya lo beda. Ada apa?" tanyanya. Heii.. Dimana sifat dinginnya? pikirku. "Gak kok, gue alright," kataku sambil tersenyum samar. Siapa yang tahu sifat dinginnya hilang kemana? "Oh," jawabnya dingin. Well, sifat dinginnya kembali. "Entar malem bales chat gue," kataku sambil berjalan menjauh. See? Gue gak bakal pernah 'bisa' lupain dia.

***
"Kay, buka pintunya!" kata Kak Karen. "Ada apa, kak?" ucapku. "Bukain dulu pintunya!" Aku langsung melompat dari kasurku dan memutar kuncinya. "Kamu lagi apa?" tanya Kak Karen. "Lagi nge-blog cerita disuruh Miss Helen," kataku dingin. "Yakin bisa ngerjain sendiri?" goda Kak Karen. "Ya setengahnya begitu, soalnya cuma disuruh ngembangin ini jadi paragraf," kataku sambil memamerkan kertas putih. "Oh, jadi cua gara-gara itu kamu lupa mandi, makan, dan bahkan dari tadi temanmu udah nungguin di ruang tamu selama 2 jam?" kata Kak Karen. "Hah?" ucapku. Aku melirik jam dinding. Ya, oke. Kakak benar. Sekarang memang sudah pukul 8 malam. "Ada siapa, kak?" tanyaku. "Devon," jawabnya. "Whaaa?" teriakku. "Emangnya kenapa?" tanya Kak Karen. "Nga-ngapain dia nungguin nyampe 2 jam disini?" tanyaku. "Gak tau deh," kata Kak Karen. "Yaudah, tolong panggilin dia, ya, kak," kataku sambil kembali menatap layar komputerku.
Tak lama, ia datang. "Duduk disitu," kataku sambil menunjuk ke arah sofa. "Ada apa? Malem-malem ke sini dan nunggu selama 2 jam?" tanyaku. "Emangnya gue ngegangguin lo ya?" Aku memutar bola mataku dan duduk di kasur. "Gue lagi banyak tugas, Dev. You know about that, huh?" tanyaku. "Yaudah deh, gue pulang aja," ucapnya pasrah. Aku langsung melompat ke arah pintu. "E-emangnya ada apa?" kataku. "Lo gagap," katanya sambil menunjuk arah bibirku. "Cepet duduk lagi," suruhku sambil mendorongnya. "Lo kenapa sih? Gak biasanya kayak begini, deh," katanya. "Cepetan to the point aja," kataku. "Gue disuruh Miss Soraya sahabat lo buat nemenin lo," katanya. Ngapain si Soraya nyampe nyuruh-nyuruh Devon ke rumah gue? "Oh ya, katanya lo belom makan, ya? Nih, gue bawain martabak," katanya sambil menaruh plastik itu di meja belajarku. "Thanks," ucapku.
"Lo lucu," kata Devon sambil menunjuk ke arah fotoku waktu bayi. Aku tak memperdulikan perkataannya dan kembali pada komputerku. "Kay," ucapnya yang membuatku membalikkan badan. Energi macam apa ini? "Wha?" Aku ternganga melihatnya memberikanku setangkai bunga mawar. "Buat lo," katanya. Aku mengambil bunga itu. "Kok gitu?" tanyaku. "Hah?" tanyanya balik. "Y-ya, oke, tadi-kalo-lo-inget, gue janji mau nge-chat lo, tapi gue belom sempet," kataku sambil menatap bunga mawar merah itu. "Dev," ucapku.
"Gue suka sama lo."
Gue udah bilang itu.
Devon menatap kaca jendelaku yang belum kututupi dengan gorden karena sibuk. "Thanks," ucapnya membalikkan badan. "Tapi gue gak bisa ngebales perasaan lo," katanya. Hati ini teriris, tersayat, dan hancur. "Hah? Kenapa lo bilang kayak gitu? Gue gak bilang kan kalo gue butuh balesan dari lo?" ucapku pasrah-tak-tahu-harus-berkata-apa. Dia menatapku lekat-lekat. Aku berusaha menghindari tatapannya. "So, tujuan lo ke sini cuma buat nemenin gue kan?" tanyaku mencairkan suasana. "Engga," katanya. "Gue mau ngerepotin lo dengan PR gue," katanya sambil tertawa. "Hah?" ucapku bingung. "Gue di rumah sendirian, kakak gue lagi ke luar kota sementara bokap nyokap sama adek gue lagi jenguk sodara gue yang lagi sakit," jelasnya. "Oh," jawabku singkat. "Gue ke sini karena PR gue susah banget, gue gak ngerti sama sekali," jelasnya. "Yaudah, lo kerjain yang lo bisa kerjain aja," kataku lalu kedua mataku kembali tertancap ke layar komputer, hanya untuk menyembunyikan tangisanku. Oke, kali ini Soraya benar. "Kay, lo punya penggaris gak?" tanyanya. Aku menyodorkan kotak pensilku tanpa membalik badan. Mungkin perbuatanku ini membuat Devon bingung. "Lo kenapa, Kay?" tanyanya. "Gue alright! Jangan dateng ke sini! Gue mau konsentrasi dulu karena harus dikasih besok! Lo kerjain aja PR lo itu! Kalo udah selesai baru panggil gue!" bentakku tak karuan.
***
Kemarin setelah Devon pulang, aku makan, mandi, kemudian menangis sejadi-jadinya sehingga kantung mataku muncul seperti ini. Kasihan mata mungilku ini. "Kay!" teriak seseorang. Aku tetap berjalan. "Kay!" panggilnya sekali lagi, tapi aku tidak menghiraukan perkataannya itu. "Hei, Kay!" teriaknya. "Apa sih?!" kataku akhirnya membalikkan badan. Tidak ada siapa-siapa. Aku berjalan mundur karena ketakutan dan tiba-tiba saja aku menabrak seseorang. Otomatis, aku langsung membalik badanku. "Maaf, maaf," kataku sambil membungkukkan badan. "Kay," katanya sambil memegang kedua pundakku. Aku mengangkat wajahku. "Astaga! Maaf, maaf, saya salah orang!" katanya setelah aku menatap wajahnya. "Eh, Aurel. Maaf, maaf. Ini aku Kayla. Ada apa?" tanyaku. "Devon.. Devon.." katanya. "Devon kenapa sih?" tanyaku bingung. "Devon.. Devon.." katanya lagi. Aku yang bingung menarik lengan Aurellia dan pergi ke kelas.
"Kenapa? Ada apa dengan Devon?" tanyaku yang masih penasaran. "Kamu liat kan, Kay, kelas sepi," katanya. "Iya, kelas emang sepi, tapi apa hubungannya sama Devon?" tanyaku lagi.  "Tentu saja ada hubungannya sama Devon!" ucapnya. Tiba-tiba aja Soraya dan Arina masuk ke dalam kelas dan berlari ke arahku. "Kay, Devon," kata Arina. "Kenapa sih semuanya bilang tentang Devon?" teriakku. "Devon itu.." kata Arina. "Kenapa sih? Ada apa dengan Devon??" tanyaku. "Devon nembak cewek.." kata Soraya langsung. "Ray!" teriak Aurellia dan Arina bersamaan. Oke, hatiku sudah kebal. "Siapa ceweknya?" kataku dengan penuh semangat. Alis mereka bertaut. "Lo gak marah?" kata Soraya. "Napa mesti marah? Punya hak aja kagak gue," kataku. "Virginia.." kata Arina kemudian. "Rin!" teriak Soraya dan Aurellia. "Oh," jawabku singkat. "Tadi pagi kita dateng si Devon udah seru-serunya teriak," jelas Aurellia. "Rell!" teriak Soraya dan Arina. "Apa?" tanya Aurellia. "Iya, teriak kalo dia seneng udah punya pacar," seru mereka bersamaan. "Gue ke taman atas bentar ya, mau nyari udara segar," kataku.
Ya, hancur sudah semuanya. "Hai, Kay," sapa Virginia yang sedang lewat di depanku. Aku tak memperdulikannya. Aku melirik jam tanganku dan berjalan menuju lift. Tiba-tiba saja lenganku ditarik dari belakang. Aku tetap berjalan. "Kay," katanya. "Apa sih?! Jangan gangguin gue!" kataku. Dia melepaskan pegangannya dan membiarkanku masuk ke dalam lift. Aku menekan tombol 3 dan melihat bayang-bayang orang yang tadi menarik lenganku. What? Itu barusan.. Kak Riska?! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kak Riska itu kakak Devon. Aku berjalan keluar dari lift dan menunggu pintu lift terbuka dan menghasilkan Kak Riska di dalamnya. Betul saja. Begitu melihat Kak Riska, aku langsung meminta maaf. "Hei, Kay," katanya sambil memegang pundakku. "Kakak tahu kok perasaan kamu sekarang," kata Kak Riska. "Ma-maksud kakak apa?" kataku pura-pura tidak tahu. "Jadi, kamu belum tahu tentang masalah itu. Baiklah, nanti pulang kuliah temui kakak di kantin," kata Kak Riska yang kemudian meninggalkanku.
***
Ternyata Kak Riska telah menungguku. "Maaf, kak, jadi nungguin," kataku sambil tersenyum. "Gak apa-apa. Kamu belum harus pulang kan?" tanyanya. "Ya begitulah," kataku. "Emm.. Baiklah. Tadi Devon nembak temanmu itu," katanya memulai pembicaraan. "Oh. Siapa orang itu kak?" tanyaku walaupun rasanya ingin menangis. "Virginia. Dia sahabatmu kan?" tanya Kak Riska. "Dia bukan sahabat aku, kak," kataku. "Hah? Jangan bilang hubungan kalian terputus gara-gara cowok," kata Kak Riska. "Bukan gara-gara cowok, dia gak pantes buat dipanggil sahabat sama aku, kak," ceritaku. "Waktu dia pertama kali bisa duduk sama Devon, dia seneng banget sampe-sampe dia ngeledek aku. Aku juga tau dari Vanora yang waktu itu ngedenger Virgin ngeledek aku." Kak Riska mengangguk-angguk. "Besok kamu libur kan?" tanya Kak Riska. Aku mengangguk. "Besok kakak ke rumah kamu boleh?" tanya Kak Riska. "Wah, kehormatan aku kakak bisa dateng ke rumah aku," ucapku. Kemudian kami tertawa.
***
 "Kay, ada Riska, nih," kata Kak Karen. "Tolong suruh dia kesini, kak. Trims," kataku. "Hai, Kay," sapanya ketika membuka pintu kamarku. "Hai, juga," sapaku balik. "Hmm.." ujarnya. "Wangi mawar merah," katanya. "Ya, mawar merah dari Devon waktu dia dateng ke sini buat ngerjain PR," kataku. "Kapan?" Mata Kak Riska memicing. "Lusa kemarin malam. Waktu itu juga aku bilang aku suka sama dia," kataku. "Kamu bilang ke dia kalo kamu suka sama dia??" tanya Kak Riska. "I-iya, kak. Emangnya ada masalah apa?" tanyaku. "Dia bakalan gak peduli lagi sama kamu, Kay. Sifatnya gak akan pernah sama lagi waktu dulu," jelasnya. "Biarin kak. Aku udah tau kalo masalah itu. Aku emang mau Devon bersikap seperti itu kepadaku." Kak Riska menghampiriku dan duduk di sebelahku. "Kamu emang perempuan kuat, Kay," katanya sambil mencubit pipiku. Kami tertawa.
"Kakak pulang dulu ya, Kay. Makasih udah traktir makan," teriaknya dari dalam mobil. "Oke!" teriakku. "Hati-hati di jalan kak! Salam buat om-tante," kataku. Dia mengangguk dan segera menancap gas.
"Kak Karen," panggilku. "Hm?" jawab Kak Karen. "Cinta itu apa?"
-Tunggu kelanjutannya, ya ^^-


Sabtu, 11 Juli 2015

Hanya Untuk Kalian

Diikutkan Dalam Lomba Cerpen 'The Chronicles of Audy: 4/4'


Aku ingin menjadi penulis. Aku sangat ingin mengikuti perlombaan itu.
Tapi, akankah mereka menyukainya? 

***

"Rex," kataku. "Hm?" balasnya dingin. "Kalo aku ikut kontes menulis, lucu gak sih?" tanyaku. Ia agak terkejut lalu kedua alisnya bertaut. "Terserah," jawabnya singkat. "Aku nanya lucu gak sih?" tanyaku kembali. Ia tidak menjawab dan kedua matanya kembali tertancap pada buku tebal itu. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku keluar dari kamar Rex dan duduk di sofa sambil memijat dahiku. Tak lama, Romeo keluar. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menarik lengan Romeo untuk duduk di sofa bersamaku. "Heh, apa-apaan ini?" tanyanya. "Ro, kalo aku ikut kontes menulis, lucu gak sih?" tanyaku. Ia sedikit kebingungan dan setelahnya tertawa tanpa henti. "Hei, Ro!" teriakku. "Au, sejak kapan kamu bisa menulis? Kayaknya baca buku aja susahnya setengah mati, deh!" tanyanya di sela-sela tawa. "Gini-gini aku jago menulis, tau!" bentakku. "Iya deh, iya. Kamu cocok aja sih jadi penulis. Gak lucu kok, soalnya dulu aku juga pengen tuh jadi penulis," katanya. Aku mengangguk mengerti. "Yaudah, aku bikin makan siang dulu," kataku. Hmm.. Nulis tentang 4R1A aja kali, ya? gumamku.
***
Aku mengambil laptopku dan mulai menulis. Ya, seperti yang tadi kupikirkan, aku memutuskan untuk menulis tentang 4R1A. Setelah 2 jam menulis, aku baru mendapatkan 3 alinea. Yang benar saja! Gimana mau jadi penulis kalo kayak gini? Teleponku berdering. Layarnya menampilkan telepon rumah 4R. Aku mengangkatnya."Au, ke rumah dong, aku mau ngajarin kamu main kubik," kata Rafael. "Entar pas makan malem aja ya, Fa. Aku lagi sakit perut," dustaku. "Oh, yaudah, janji ya entar malem!" Rafael memutuskan sambungannya. Aku mulai melanjutkan ceritaku.
Setelah 6 hari berpikir, jadi juga ceritaku. 4R1A siap untuk aku serahkan kepada salah satu penerbit buku. Dalam 1 minggu, admin mereka mengabariku bahwa ceritaku berhak untuk diterbitkan. Ya baiklah. Aku sudah menyiapkan semuanya. Cover, pre-order, semuanya. Aku sudah jarang ke rumah 4R, dan aku menjadi serba salah. Jadi hari ini aku membeli capcay, ayam goreng, dan beberapa kudapan. Regan tidak tahu tentang hal ini, jadi aku beli saja. Saat aku melihat sedan hitam di depan rumah 4R, aku terkejut. Astaga, Regan ternyata datang. Aku melangkah gontai ke arah rumah 4R.
Rex dan Maura ada di depan. "Dy, ternyata kamu tidak apa-apa!" kata Maura sambil berjalan ke arahku. Aku tersenyum geli. "Jadi, kenapa kamu tidak datang?" tanya Rex. "Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah," kataku. "Seperti ini?" tanya Romeo sambil memamerkan sebuah buku. Di buku itu tertulis judul 4R1A. "Ro!" teriakku. "Kenapa?" tanya Romeo. "Kan aku mau bikin surprise buat kalian," kataku. "Ayo, masuk," kata Regan. Aku mengangguk dan ingat aku membawa banyak makanan. "Re, tadi aku beli banyak makanan," kataku sambil mengangkat plastik hitam besar. "Wah, tau aja kalo aku belom beli makanan," goda Regan. Aku tersenyum menang. "Yaudah, cepetan! Capcaayyy.." kata Romeo.

Setelah makan siang, aku menceritakan pada semuanya bagaimana jerih payahku membuat semua itu. "Aku udah baca," kata Rafael yang tiba-tiba muncul dari kamar Romeo. "Baca apa?" tanya Maura. "Tuh, abis baca bukunya Audy," katanya. "Bagus gak, Fa?" tanyaku. "Ya, lumayanlah," tanggapnya. "Yeyy.. Aku sayang Rafa!" seruku sambil memeluk Rafael. Semua orang tertawa melihat tingkah lakuku, kecuali Rex.

"Ohya, Re, kemarin aku dapet hadiah, tapi belum dibuka, bukain ya!" kataku sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Regan mengangguk dan segera merobeknya. "Untuk Audy Nagisa, 22 tahun, penulis 4R1A," ucap Regan selesai membuka bungkusan tadi. "Buka, Mas kotaknya!" seru Romeo tak sabar. Disana terdapat 3 kartu. Yang pertama bertuliskan 'Rp. 3.500.000,00,-'. Yang kedua bertuliskan '5 buah Voucher Belanja @Rp. 100.000,00,-'. Yang ketiga bertuliskan '4 novel 4R1A'. "Buat apa novel 4R1A?" tanya Romeo. "Buat kalian jadi gausah beli, free tanda tangan aku, sama nih, tumblr buat kalian masing-masing. Hadiah yang tadi semuanya buat kalian aja," kataku. "Buat apa, Dy? Kan yang dapet kamu, bukan kita," kata Maura. "Kan aku bikin novel ini hanya untuk kalian. Kalian liat aja di ucapan terima kasih," kataku. "Iya, ada Au!" seru Romeo. "Ok, makasih ya, Dy," kata Regan. "Aku yang harus terima kasih. Voucher belanja khusus buat Regan dan Maura doang, yang tunainya, terserah mau diapain," kataku. Semua tertawa hingga petang dan kali ini (mungkin) Rex tertarik karena ia ikut tertawa bersama kami.