“Diam kenapa sih?! Anj*ng!!” Aku mulai
mengeluarkan suara terbaikku untuk menenangkan kelas. Semuanya langsung
terdiam begitu saja dan tak lama lagi sudah mulai berbasa-basi lagi dengan
teman yang lain. Aku kembali ke tempat dudukku. Capek sekali. Ingin istirahat.
“Kay! Itu tuh, si Michael berantem
sama Hansel!” seru Tiffany. Astaga.
Kuharap aku segera terbangun dari tidurku yang menyebalkan ini! “Kenapa
sih?! Kalian seperti t*i sekali!” seruku. Sadarlah, Kayla. Ini dunia
nyata. Aku menghembuskan napas.
Bel istirahat berbunyi. Seperti
biasa, aku dan Tiara pergi menuju kantin. Aku pergi ke kantin bukan hanya untuk
membeli makanan dan minuman kemudian kembali ke kelas lagi. Tapi, aku ke kantin
juga untuk melihat gebetanku, Rio.
Aku berdesak-desakkan demi mengambil
makanan dengan yang lain. Di ujung kantin, aku melihat Rio dengan pacarnya,
Erlyn. Ke kantin selalu dengannya! Kalau
bukan dengan Erlyn, pasti sama Mac. Aku segera kembali ke kelas setelah
menunggu Tiara membeli makanan.
Bel masuk berbunyi dan aku memanggil
kak Natasya untuk berlatih upacara. Sungguh, jika aku boleh bercerita, ia
selalu mengeluh dengan pekerjaannya sebagai seksi upacara. Dalam hati aku
selalu berkata, tidakkah ia ingat dengan
janjinya sebelum menjadi anggota OSIS?
Aku mengambil peralatan upacara di
kantor guru. Kemudian, aku memanggil petugas-petugas upacara untuk berlatih.
Untunglah, kali ini kami dibantu dengan Pak Barjo dalam latihan kali ini. Jadi,
upacara bisa berjalan dengan lancar meskipun masih ada yang belum siap. Aku
segera membereskan peralatan setelah selesai.
Lelah sekali. Aku
masih harus berteriak-teriak di dalam kelas karena kegaduhan saat pindah tempat
duduk.
Bel pulang berbunyi. Aku segera
mengambil handphoneku dan
memberikannya pada Selly untuk menelepon ayahnya. Sementara itu, aku ingin
mengambil buku Harry Potterku. Aku
berusaha untuk membuka pintu perpustakaan, tetapi apa daya, dikunci. Tubuhku
melemas seketika di depan pintu perpustakaan.
Setelah Selly selesai menelepon
ayahnya, aku pulang naik angkutan umum ber-sama Selly. Sampai di tengah
perjalanan, ada dua anak laki-laki remaja naik ke angkutan umum yang aku naiki.
Aku mendengar percakapan mereka. Dengan
polosnya, mereka berbicara begitu saja. Tetapi, yang paling aku tidak percayai
adalah, mereka masih berbicara aku-kamu. Aku sangat antusias mendengarkan
mereka berbicara seperti itu. Nyaman sekali rasanya. Rasa letihku hilang begitu
saja. Sampai-sampai aku masih tidak sadar sudah sampai tujuan.
Aku selalu berpikir, masih adakah
orang yang dapat berkata bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Sekarang,
pertanyaanku sudah terjawab. Aku selalu berpikir seperti itu, karena sebetulnya,
aku tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, walaupun aku WNI
asli-dengan sedikit keturunan Tionghoa.
Aku selalu berharap masih ada orang
yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, lalu kemudian menyadarkan
orang-orang sepertiku untuk berbicara lebih baik dan sopan, tanpa harus
mengeluarkan kata-kata kasar.
I LOVE
INDONESIA!
Blog anda bagus
BalasHapus