Jumat, 15 Januari 2016

Lomba Menulis Penerbit Haru ke-5: Kisah Dibalik Kekompakkan Penerbit Haru Group

https://www.facebook.com/notes/penerbit-haru/haruhi5-lomba-menulis-hari-hari-haru/938757942845305

Diikutkan dalam Lomba Menulis Cerpen

Dalam Rangka Ulang Tahun Penerbit Haru yang ke-5

“Editor! Kerja kamu itu selalu santai! Nggak lihat apa, di sana masih banyak tumpukan naskah yang harus kamu lihat!” kata Pak Man, memarahi Kak Tor yang sedang mendengarkan musik.

“Iya, Pak. Saya sudah bekerja keras untuk hari ini. Saya akan berusaha mengum-pulkan tenaga untuk membaca naskah yang lain,” terang Kak Tor sambil menahan isak tangis dan mematikan musiknya.

“Saya ingin naskah cepat selesai agar bisa cepat dicetak. Readers sudah menungggu! Tidak tahukah kamu tentang hal itu?” Suara Pak Man kembali menggelegar di kantor Haru. Kak Tor hanya mengangguk-angguk pasrah. Kemudian, Pak Man meninggalkan Kak Tor seorang diri.

“Sudahlah, Tor. Berikan usaha terbaikmu untuk seluruh petugas dan readers Haru,” kata Kak Min. “Aku juga masih banyak kerjaan, nih! Kayaknya hari ini harus lembur.”

Kak Tor menyalakan musiknya kembali. Ia mengambil naskah selanjutnya untuk di editing ulang. Baiklah, kali ini dalam waktu seminggu harus sudah selesai. Semuanya!

Esok pagi, Pak Man kembali menghampiri Kak Tor. “Semalam kamu lembur, ya?” tanya Pak Man, salah tingkah.

“Ya begitulah, Pak. Sudah begini nasib sebagai editor. Haha,” sahut Kak Tor dengan mata masih menyangkut di layar komputer.

“Ini, terimalah balas budi saya. Maaf kemarin saya terlalu gengsi,” kata Pak Man sambil menaruh kantong plastik hitam di samping komputer Kak Tor.

Kak Tor berdiri dan melihat ke dalam kantong plastik itu, kemudian menatap mata Pak Man. “Maaf, Pak. Saya sedang menjalani diet. Ini untuk Bapak saja,” kata Kak Tor sambil berusaha memberi kantong plastik itu kepada Pak Man.

“Buat saya saja, ya, Pak. Saya lapar. Dompet telah menipis. Terima kasih, Pak,” kata Kak Bunga langsung berlari setelah mendapatkan kantong plastik itu.

“Maaf, Pak. Saya nggak pernah bermaksud untuk mengecewakan Bapak dengan usaha saya yang selalu pas-pasan. Saya akan berusaha lebih lanjut untuk membanggakan Bapak serta seluruh petugas dan readers,” kata Kak Tor sembari duduk.

“Ya, saya mengerti perasaan kamu. Saya akan memegang janji-janji yang telah kamu ucapkan,” kata Pak Man sambil tersenyum dan meninggalkan Kak Tor.

Seminggu kemudian...

“Permisi... Aduh! Permisii!” Kak Tor berlari sambil membawa naskah. Diketuk olehnya pintu kerja Pak Man. “Ya, silahkan masuk.”

“Pak, saya sudah selesai mengedit ulang seluruh naskah. Ini naskahnya!” kata Kak Tor. Pak Man mengangguk-angguk puas.

“Hmm... Saya punya satu pekerjaan lagi untukmu,” kata Pak Man. Hati Kak Tor sudah getir. “NASKAH LAGI!” teriak Pak Man berbangga hati. Kak Tor mulai melemas di tempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar