Diikutkan
dalam Lomba Menulis Cerpen
Dalam
Rangka Ulang Tahun Penerbit Haru yang ke-5

“Editor! Kerja kamu itu selalu santai! Nggak lihat
apa, di sana masih banyak tumpukan naskah yang harus kamu lihat!” kata Pak Man,
memarahi Kak Tor yang sedang mendengarkan musik.
“Iya, Pak. Saya sudah bekerja keras untuk hari ini.
Saya akan berusaha mengum-pulkan tenaga untuk membaca naskah yang lain,” terang
Kak Tor sambil menahan isak tangis dan mematikan musiknya.
“Saya ingin naskah cepat selesai agar bisa cepat dicetak.
Readers sudah menungggu! Tidak
tahukah kamu tentang hal itu?” Suara Pak Man kembali menggelegar di kantor
Haru. Kak Tor hanya mengangguk-angguk pasrah. Kemudian, Pak Man meninggalkan
Kak Tor seorang diri.
“Sudahlah, Tor. Berikan usaha terbaikmu untuk seluruh
petugas dan readers Haru,” kata Kak
Min. “Aku juga masih banyak kerjaan, nih! Kayaknya hari ini harus lembur.”
Kak Tor menyalakan musiknya kembali. Ia mengambil
naskah selanjutnya untuk di editing
ulang. Baiklah, kali ini dalam waktu
seminggu harus sudah selesai. Semuanya!
Esok pagi, Pak Man kembali menghampiri Kak Tor.
“Semalam kamu lembur, ya?” tanya Pak Man, salah tingkah.
“Ya begitulah, Pak. Sudah begini nasib sebagai editor.
Haha,” sahut Kak Tor dengan mata masih menyangkut di layar komputer.
“Ini, terimalah balas budi saya. Maaf kemarin saya
terlalu gengsi,” kata Pak Man sambil menaruh kantong plastik hitam di samping
komputer Kak Tor.
Kak Tor berdiri dan melihat ke dalam kantong plastik
itu, kemudian menatap mata Pak Man. “Maaf, Pak. Saya sedang menjalani diet. Ini
untuk Bapak saja,” kata Kak Tor sambil berusaha memberi kantong plastik itu
kepada Pak Man.
“Buat saya saja, ya, Pak. Saya lapar. Dompet telah
menipis. Terima kasih, Pak,” kata Kak Bunga langsung berlari setelah mendapatkan
kantong plastik itu.
“Maaf, Pak. Saya nggak pernah bermaksud untuk
mengecewakan Bapak dengan usaha saya yang selalu pas-pasan. Saya akan berusaha
lebih lanjut untuk membanggakan Bapak serta seluruh petugas dan readers,” kata Kak Tor sembari duduk.
“Ya, saya mengerti perasaan kamu. Saya akan memegang
janji-janji yang telah kamu ucapkan,” kata Pak Man sambil tersenyum dan
meninggalkan Kak Tor.
Seminggu
kemudian...
“Permisi... Aduh! Permisii!” Kak Tor berlari sambil
membawa naskah. Diketuk olehnya pintu kerja Pak Man. “Ya, silahkan masuk.”
“Pak, saya sudah selesai mengedit ulang seluruh naskah. Ini naskahnya!” kata Kak Tor. Pak Man
mengangguk-angguk puas.
“Hmm... Saya punya satu pekerjaan lagi untukmu,” kata
Pak Man. Hati Kak Tor sudah getir. “NASKAH LAGI!” teriak Pak Man berbangga
hati. Kak Tor mulai melemas di tempat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar